asa

Aurora - Episode 1

  Halte kumuh di tengah kota. Nampak sepi. Angin berdesir menyapukan sampah daun-daun dari pohon beringin di belakangnya. Belukar merambat. Merusak sarana umum. Bus datang menurunkan satu penumpang. Lelaki beransel besar. Datang jauh dari kota seberang. Memegang handphone dan celingak-celinguk sendirian. Bus kembali pergi meninggalkannya sendiri. Setidaknya halte kumuh itu ada temannya.

 “Aku sudah di lokasi pertama. Selanjutnya apa?” lelaki itu melirik sekitar. Halte kumuh. Beringin lebar. Dan sampah-sampah lainnya.

 “Aku bagikan lokasinya.  Tidak jauh dari situ tempat acaranya.” Suara manis dari balik telepon mengirimkan lokasi tempat acara yang satu hari lagi akan dilaksanakan. “kamu tunggu aja disana, nanti temanku ngejemput. Kasih tahu aku ciri-ciri kamu!”

 “Oke-oke. Aku duduk di halte. Pakai kemeja kotak-kotak biru. Bawa ransel besar dan ..” lelaki ini cukup jeli menjelaskan. Dan perempuan di dalam teleponnya menanggap cepat. “cukup. Terimakasih. Jangan kemana-mana.” Lalu terputuslah percakapan itu.

 Ini bukan kali pertama Adipati berpergian keluar kota sendiri. Hanya berbekal selembaran poster mengenai seminar pelatihan dan ia berangkat dengan ongkos seadanya. Ia menarik saku celananya, menghitung uang lembar recehan yang masih terlipat. Hasil dari memecahkan celengan babi. Ia sangat bersyukur uang untuk biaya pendaftaran seminar cukup. Lalu tanpa pikir panjang, ia segera berangkat.

 Adipati menyukai segala macam seminar dan pelatihan. Terlebih pelatihan yang ada hubungannya dengan jurusan kuliahnya. Teknik informatika. Dalam satu tahun ia bisa sampai empat kali mengikuti pelatihan di dalam kota. Baginya tidak cukup hanya belajar dalam ruang kelas. Ada hal yang ingin ia dapatkan ketimbang mendapatkan ilmu dari buku atau tatap muka bersama dosennya. Ia ingin lebih mendalami programming.

 Dan perempuan yang tadi sedang berbicara dengannya adalah Aurora. Ia adalah salah satu narahubung dalam pelatihan tersebut. sama sekali mereka belum kenal. Dari sekian nama narahubung, nama aurora yang dipilih Adipati. Baginya aurora adalah dewi yang tidak pernah ia jumpai. Hanya suara dan tidak pernah terjangkau.

 “Hallo, Adi. Maaf lama menunggu. Kamu bisa tetap disana, kan?” Suara aurora memanggil. Itu merupakan obat sepi manakala Adipati sedang gelisah seorang diri. Jam sudah pukul empat sore. Beringin mulai memanggil hantu-hantunya untuk kembali ke sarang pangkuannya. Dan halte itu masih nampak sepi. Tidak ada lagi bus yang berhenti dan memuntahkan penumpangnya lagi.

 “Iya, masih. kalau tidak merepotkan aku bisa pergi ke sana sendiri.” Adi mengangkat ranselnya. “sepertinya lokasinya tidak jauh, aku bisa memakai jasa grab.”

 “Jangan-jangan. Tunggu disana aku tidak lama. Sudah jadi kewajibanku untuk menyambut tamu dan menyiapkan akomodasi dan peristirahatan. Sebentar aku panasin motornya dulu.” Terdengar suara selahan sepeda motor tapi tidak terdengar derunya. Pasti Aurora sedang kesulitan, begitu pikir Adi.

 “Kamu tidak apa-apa?” Adipati tiba-tiba bertanya. “Kamu kenapa nangis?” suara isakan terdengar. Iya segera mencari sinyal karena tiba-tiba jaringan terputus. “Aurora? Kami tidak apa-apa, kan?”

Comments

Genre